Pemerintah Kota Bontang meluncurkan program "Inovasi Cantik" (Cegah dan Tangani Stunting) untuk menekan prevalensi stunting dari 14,05 persen menjadi di bawah 10 persen. Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni menyatakan target satu digit itu harus dicapai lewat kerja bersama lintas sektor. Program ini berjalan dengan intervensi selama 56 hari kerja di Kelurahan Kanaan, Kecamatan Bontang Barat.
BONTANG — Hasil penimbangan serentak terhadap 9.884 balita di seluruh Kota Bontang menemukan 1.389 anak masuk kategori stunting. Angka itu menjadi dasar Pemkot Bontang menggenjot penanganan lewat program "Inovasi Cantik" yang diluncurkan di Kelurahan Kanaan, Kecamatan Bontang Barat.
Wali Kota Neni Moerniaeni menegaskan penanganan stunting tidak bisa dikerjakan satu instansi saja.
"Kita targetkan satu digit. Penanganan stunting harus dilakukan bersama-sama," kata Neni saat peluncuran program.
Intervensi 56 Hari Kerja, dari Gizi sampai Sanitasi
Melalui Inovasi Cantik, Pemkot Bontang menyiapkan intervensi selama 56 hari kerja. Penanganan tidak hanya diarahkan pada pemenuhan gizi anak, tetapi juga menyasar sejumlah faktor yang berpengaruh terhadap munculnya stunting.
Neni menyebut persoalan stunting berkaitan dengan pemenuhan gizi pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), edukasi kesehatan reproduksi bagi remaja, pencegahan kehamilan dini, hingga sanitasi lingkungan.
Aparatur kelurahan diminta ikut memastikan kondisi lingkungan warga tetap sehat. Pengawasan juga perlu dilakukan terhadap lingkungan peternakan yang berpotensi menjadi sumber penyakit infeksi.
"Penanganan masalah kesehatan dan sosial ini harus dikeroyok bersama," ujarnya.
Wali Kota Ingatkan Anak Pendek Belum Tentu Stunting
Neni meminta tenaga kesehatan lebih teliti dalam menetapkan status stunting pada anak. Menurut dia, anak dengan postur pendek tidak otomatis mengalami stunting karena faktor genetik juga perlu diperhitungkan.
"Stunting itu pasti pendek, tapi tidak semua anak pendek itu stunting. Lihat juga genetik atau postur orang tuanya," jelasnya.
Insentif RT Rp 2 Juta per Bulan untuk Pemantauan Warga
Pemkot Bontang mendorong penguatan pemantauan di tingkat RT. Ketua RT menerima insentif Rp 2 juta per bulan, sedangkan bendahara, sekretaris, dan kader masing-masing menerima Rp 1 juta.
Insentif tersebut diharapkan mendukung pemantauan kondisi warga secara langsung dengan pendekatan by name by address. Keluarga yang membutuhkan intervensi dapat segera ditangani.
Dengan 1.389 anak yang masih tercatat stunting, Pemkot Bontang menargetkan angka itu turun ke satu digit. Neni bahkan mendorong kasus stunting di wilayah tersebut dapat ditekan hingga nol kasus.