SAMARINDA — Angka surplus itu berasal dari dua kelompok sistem yang melayani Kaltim, yakni sistem Mahakam dan sejumlah sistem terisolasi yang belum terkoneksi jaringan utama. Bambang merinci sistem Mahakam menyumbang daya mampu sekitar 1.035 MW dengan beban puncak 890 MW, menyisakan cadangan 101,5 MW.
Sementara sistem terisolasi punya daya mampu 47,07 MW, beban puncak 39,66 MW, dan cadangan sekitar 7,41 MW. "Daya mampu kita di Kaltim sebesar 1.082,07 megawatt, sedangkan beban puncaknya 929,66 megawatt. Jadi kita masih punya surplus 152,41 megawatt," kata Bambang saat ditemui, Senin (5/10/2026).
Hitungan kapasitas di atas kertas tak otomatis membuat pasokan aman. Sejumlah pembangkit, termasuk milik Independent Power Producer (IPP), harus menjalani pemeliharaan rutin secara bergilir. Beberapa di antaranya PLTU Graha Power Kaltim, PLTU Indoeka, PLTU Cahaya Fajar Kaltim, PLTGU Senipah, dan PLTG Sambera.
"Memang menurut penjelasan PLN ada beberapa pembangkit IPP yang mengalami perawatan rutin. Perawatannya bergilir," ujarnya. Karena sistemnya interkoneksi, perawatan yang berdekatan waktunya langsung memangkas daya yang tersedia untuk melayani warga.
Bambang menyebut defisit daya dalam kondisi tertentu bisa menembus 50 sampai 100 MW. Bila cadangan tak cukup menutup kekurangan itu, pemadaman bergilir jadi opsi yang sulit dihindari.
Sistem kelistrikan Kaltim ditopang pembangkit milik PLN dan IPP. Dari PLN tercatat PLTU Kariangau 180 MW, pembangkit peaking 140 MW, PLTGU Tanjung Batu 45,6 MW, PLTG Sambera 18 MW, PLTMG Bontang 47,44 MW, dan PLTD 49,49 MW.
Dari sisi IPP ada PLTU Graha Power Kaltim 200 MW, PLTU Indoeka 200 MW, PLTU Cahaya Fajar Kaltim 55 MW, PLTU Muara Jawa 95 MW, PLTGU Senipah 117 MW, dan PLTS 50 MW. Bambang menilai persoalan kelistrikan tak cukup dilihat dari kecukupan kapasitas semata.
Ada tiga aspek yang perlu diperhatikan: kecukupan daya, keandalan sistem, dan kemampuan pembangkit menjaga pasokan saat gangguan atau pemeliharaan. "Kalau kita tanya apakah dayanya cukup, sebenarnya sudah cukup. Tapi apakah andal? Ternyata belum sepenuhnya andal," katanya.
Menurut Bambang, warga butuh kepastian pasokan, bukan sekadar kapasitas terpasang yang secara hitungan terlihat surplus. "Walaupun dayanya cukup dan surplus, tetapi ketika harus mengalami perawatan rutin, ternyata bisa sampai tekor 50 sampai 100 megawatt. Itu memang pernah terjadi pengaturan bergilir atau hidup bergilir," ujarnya.
ESDM Kaltim berharap PLN bersama pengelola pembangkit dalam sistem Mahakam menata jadwal pemeliharaan agar tidak jatuh bersamaan. "Publik sebagai entitas yang dilayani oleh PLN seharusnya tidak dirugikan oleh ketidakandalan sistem tadi," tegasnya.
Persoalan ini juga masuk pembahasan Pemprov Kaltim, PLN, dan pemerintah pusat. Gubernur Kaltim Rudy Mas'ud sebelumnya telah berkomunikasi dengan jajaran pusat dan PLN, melibatkan pihak-pihak yang berkaitan dengan pengelolaan pembangkit.
"Sudah kemarin diundang semua dalam rapat nasional. PLN, dirjen, GN Kaltim juga hadir dan semua pihak PLN yang terkait dengan pembangkit ini hadir di Jakarta," kata Bambang. Dari pertemuan itu muncul komitmen mempercepat penyelesaian persoalan pembangkit dan memperbaiki keandalan sistem kelistrikan.
Hingga kini ESDM Kaltim masih menunggu penjelasan terbaru soal perkembangan perbaikan dan pemeliharaan pembangkit tersebut.