Perusahaan bernama [nama startup disebutkan dalam bahan, namun tidak ada di ringkasan—jika tidak ada, gunakan "startup tersebut"] memperkenalkan inovasi ini di tengah meningkatnya kekhawatiran global atas sabotase infrastruktur bawah laut. Kabel telekomunikasi dan listrik yang membentang di dasar samudra selama ini menjadi titik rawan yang sulit diawasi secara manual.
Drone ini ditenagai oleh perangkat lunak otonom yang memungkinkan satu operator mengoordinasikan beberapa drone sekaligus—dari udara, darat, permukaan laut, hingga bawah air. Kemampuan ini menjadi lompatan signifikan dari metode patroli konvensional yang membutuhkan kapal dan penyelam mahal.
Empat Jam Otonom atau Tak Terbatas dengan Tether
Dalam mode otonom, drone mampu berpatroli selama empat jam non-stop sebelum perlu diisi ulang. Namun, jika dipasangi kabel tether ke sumber daya di kapal induk di permukaan, drone bisa beroperasi tanpa batas waktu.
Kedalaman maksimum 500 meter mencakup sebagian besar jalur kabel laut dangkal yang kerap menjadi sasaran jangkar kapal atau aktivitas penangkapan ikan ilegal. Untuk kabel di palung laut dalam, drone versi lanjutan kemungkinan masih diperlukan.
Mengapa Infrastruktur Bawah Laut Kini Jadi Prioritas
Serangkaian insiden pemutusan kabel bawah laut di Laut Merah dan Laut Baltik dalam dua tahun terakhir telah mendorong negara-negara besar dan perusahaan telekomunikasi untuk mencari solusi patroli otomatis. Indonesia, sebagai negara kepulauan dengan lalu lintas kabel bawah laut yang padat, termasuk pihak yang rentan terhadap gangguan serupa.
Drone ini menawarkan alternatif yang lebih murah dibandingkan mengerahkan kapal survei atau robot bawah air yang dioperasikan manual. Startup tersebut mengklaim biaya operasionalnya bisa ditekan hingga sepertiga dari metode tradisional.
Bagaimana Cara Kerja Sistem Koordinasinya
Perangkat lunak otonom yang menjadi otak drone memungkinkan sinkronisasi dengan drone udara dan permukaan. Misalnya, drone udara bisa mendeteksi kapal mencurigakan dari atas, lalu mengirim koordinat ke drone bawah air untuk diperiksa lebih dekat.
“Operator cukup duduk di ruang kendali di darat dan memantau peta digital. Sistem akan memberikan peringatan otomatis jika ada anomali di sekitar kabel,” demikian pernyataan startup tersebut, yang tidak disebutkan nama narasumbernya dalam bahan.
Ketersediaan dan Target Pasar
Drone ini belum diumumkan secara spesifik untuk pasar Indonesia. Namun, mengingat posisi strategis Nusantara sebagai jalur lalu lintas kabel bawah laut internasional, produk ini berpotensi masuk dalam waktu dekat.
Hingga berita ini ditulis, belum ada informasi mengenai harga jual atau jadwal komersialisasi massal. Startup tersebut masih dalam tahap pengujian lanjutan dengan beberapa mitra operator telekomunikasi di Eropa dan Asia Pasifik.