KALIMANTAN TIMUR — Direktur Utama Pelindo Achmad Muchtasyar mengungkapkan, pertumbuhan segmen internasional menjadi motor utama dengan ekspor naik 10 persen dan impor melesat 12 persen. Sementara itu, arus peti kemas domestik tumbuh 4 persen, dengan aktivitas bongkar meningkat 5 persen dan muat naik 4 persen. "Peningkatan ini menunjukkan perdagangan luar negeri Indonesia tetap terjaga, sekaligus mencerminkan kuatnya distribusi barang antarpulau yang menopang aktivitas ekonomi daerah," ujarnya.
China dan ASEAN Dominasi Perdagangan, Komoditas Ini Paling Moncer
Data perdagangan mencatat, kawasan China dan ASEAN masih menjadi penopang utama dengan kontribusi 46,2 persen terhadap ekspor dan 56,5 persen terhadap impor nasional. Dari sisi komoditas, ekspor berbasis peti kemas yang tumbuh positif antara lain lemak dan minyak hewan atau nabati (7,95 persen), mesin dan peralatan mekanis (9,26 persen), serta produk kimia yang melonjak 12,27 persen.
Adapun impor didominasi oleh mesin dan peralatan mekanis yang naik 22,1 persen serta produk kimia yang meningkat signifikan hingga 36,31 persen. Angka ini mengindikasikan tingginya kebutuhan bahan baku industri dalam negeri.
Pelabuhan Makassar Tumbuh Berkat Pangan, Pemerintah Siapkan 12 Terminal Baru
Pertumbuhan arus peti kemas juga merata di pelabuhan utama. Untuk layanan domestik, Pelabuhan Tanjung Priok mencatat kenaikan 8 persen, Tanjung Perak tumbuh 2 persen, dan Pelabuhan Makassar meningkat 7 persen berkat pergerakan komoditas pertanian seperti beras, jagung, dan palawija.
Menyikapi tren ini, Direktur Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan Muhammad Masyhud menyatakan pemerintah terus mendorong peningkatan kapasitas terminal. Hingga April 2026, sebanyak 12 lokasi terminal telah ditetapkan sebagai terminal peti kemas, termasuk Pelabuhan Banten dan Pelabuhan Tanjung Emas Semarang. "Langkah ini sesuai dengan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 50 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Pelabuhan Laut," jelas Masyhud.
Pemerintah juga tengah membangun dan merehabilitasi fasilitas pelabuhan di 74 lokasi selama periode 2025-2026. Proyek ini bertujuan memperkuat konektivitas logistik nasional, mendukung hilirisasi industri, dan mengantisipasi pertumbuhan arus peti kemas dalam beberapa tahun ke depan.