BALIKPAPAN — Dosen Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Kaltim turun langsung ke MTs Negeri 1 Balikpapan untuk menyosialisasikan program Satu Rumah Satu Jumantik (SRSJ), Selasa (19/11/2024). Program ini menyasar para siswi sebagai garda terdepan pencegahan DBD dari lingkungan terkecil, yaitu rumah tangga.
Kenapa Jumantik Harus dari Usia Sekolah?
Pola pikir tentang kebersihan lingkungan dinilai lebih mudah ditanamkan sejak remaja. Melalui program ini, para siswi tidak hanya diajarkan teori, tetapi juga praktik langsung memeriksa tempat-tempat penampungan air yang berpotensi menjadi sarang nyamuk Aedes aegypti.
“Kami ingin membentuk kader jumantik cilik yang bisa memeriksa rumahnya sendiri. Ini lebih efektif daripada sekadar sosialisasi di kelurahan,” ujar salah satu dosen Poltekkes Kemenkes Kaltim dalam sesi pelatihan di Aula MTs Negeri 1 Balikpapan.
Materi yang Diajarkan: Dari Ciri Jentik hingga Cara Pelaporan
Dalam sosialisasi tersebut, para siswi mendapatkan materi tentang:
- Ciri-ciri jentik nyamuk DBD — bergerak aktif, bentuknya kecil, dan sering ditemukan di air bersih yang tenang.
- Cara pemeriksaan menggunakan senter dan alat sederhana untuk memeriksa bak mandi, tempayan, hingga tempat minum hewan peliharaan.
- Teknik pelaporan hasil pemantauan ke guru atau orang tua sebagai bentuk tanggung jawab.
Kegiatan ini juga diisi dengan permainan edukatif dan kuis berhadiah agar materi lebih mudah diserap.
Mengapa Program Ini Krusial untuk Balikpapan?
Balikpapan termasuk daerah endemis DBD di Kalimantan Timur. Data Dinas Kesehatan Kota Balikpapan mencatat puluhan kasus setiap tahun, terutama saat pancaroba. Dengan melibatkan pelajar, Poltekkes Kemenkes Kaltim berharap angka kejadian DBD bisa ditekan dari hulu.
“Kami tidak bisa bekerja sendiri. Peran serta masyarakat, terutama generasi muda, sangat menentukan,” tambah dosen tersebut.
Apa Langkah Selanjutnya dari Program Ini?
Pihak Poltekkes Kemenkes Kaltim berencana memperluas sosialisasi ke sekolah-sekolah lain di Balikpapan. Selain itu, mereka juga akan memantau secara berkala hasil pemeriksaan jentik yang dilakukan oleh para siswi di rumah masing-masing.
Program Satu Rumah Satu Jumantik sendiri merupakan inisiatif nasional Kementerian Kesehatan yang digaungkan kembali di daerah dengan angka DBD tinggi. MTs Negeri 1 Balikpapan menjadi salah satu sekolah percontohan di Kalimantan Timur.
Apakah program ini hanya untuk siswi perempuan?
Tidak. Meskipun sasaran awal di MTs Negeri 1 Balikpapan adalah siswi, program ini terbuka untuk semua pelajar. Pemilihan lokasi disesuaikan dengan kesiapan sekolah dan antusiasme siswa.
Berapa lama pelatihan jumantik ini berlangsung?
Pelatihan inti dilakukan dalam satu hari penuh, namun pemantauan dan pendampingan akan berlanjut selama satu bulan ke depan melalui grup komunikasi dengan guru pembina.
Apa yang harus dilakukan jika menemukan jentik di rumah?
Segera lakukan PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk) dengan menguras, menutup, dan mengubur barang bekas. Jika perlu, gunakan larvasida sesuai dosis. Laporkan hasil temuan ke kader jumantik setempat atau puskesmas terdekat.