SAMARINDA — Dinas Kesehatan Kalimantan Timur (Dinkes Kaltim) memulai pelatihan intensif bagi tiga fasilitas kesehatan yang belum memiliki layanan Tuberkulosis Resistan Obat (TB RO). Kegiatan ini berlangsung di Balai Pelatihan Kesehatan (Bapelkes) Kaltim, Samarinda, pada 9-11 Juni 2026.
Kepala Dinkes Kaltim Jaya Mualimin menegaskan, akses pengobatan berkualitas harus dipercepat dan diperluas, terutama bagi warga yang tinggal di wilayah pelosok dan terpencil.
Tiga Rumah Sakit Jadi Pilot Project
Pelatihan pembekalan ini diikuti secara intensif oleh tim TB RO dari tiga fasilitas kesehatan. Mereka adalah RSUD Dayaku Raja Kutai Kartanegara, RSUD Sangkulirang Kutai Timur, dan RSU Pratama Mangku Jaya Linggang Kutai Barat.
Ketiga RS ini akan menjadi garda depan dalam menginisiasi terapi TB RO di wilayah masing-masing. Peningkatan kapasitas petugas medis menjadi kunci agar proses penanganan bisa lebih dekat dengan pasien.
Bukan Sekadar Obat, Ada Pendampingan Psikososial
Jaya Mualimin menekankan, layanan TB RO tidak hanya soal pemberian regimen obat-obatan. Setiap fasilitas kesehatan yang ditunjuk wajib menyediakan pendampingan berkala, pemantauan efek samping obat, hingga dukungan psikososial.
"Kami ingin memastikan pasien mendapat layanan yang humanis dan berpusat pada pasien, sampai dinyatakan sembuh total," ujar Jaya dalam keterangannya di Samarinda, Kamis.
Kolaborasi Multi-Pihak untuk Deteksi Dini
Menurut Jaya, penyakit menular TBC masih menjadi tantangan serius di Indonesia. Percepatan penyediaan layanan medis yang mumpuni mutlak diperlukan di seluruh daerah, termasuk Kaltim yang memiliki geografis luas.
Dinkes Kaltim optimistis, penguatan kapasitas pelayanan di pelosok akan berdampak positif terhadap peningkatan angka deteksi dini. Kolaborasi solid antara pemerintah, fasilitas kesehatan dasar, komunitas sosial, dan kelompok penyintas TBC menjadi kunci utama.
Melalui program pelatihan terstruktur ini, pemerintah daerah berupaya mengoptimalkan kemandirian pelayanan kesehatan di tingkat kabupaten hingga kecamatan. Proses penanganan medis diharapkan menjadi jauh lebih dekat, cepat, dan bermutu bagi masyarakat setempat.