KALIMANTAN TIMUR — Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga mencatat pelemahan lebih dalam ke level Rp18.131 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya Rp18.069. Tekanan terhadap rupiah terjadi bersamaan dengan meningkatnya ketidakpastian geopolitik yang memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan energi global.
Iran Tutup Selat Hormuz, Harga Minyak Berpotensi Melonjak
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan serangan balasan Iran menargetkan fasilitas AS di sejumlah negara Teluk pada Minggu (12/7). Teheran juga mengumumkan penutupan kembali Selat Hormuz, jalur transit minyak paling strategis di dunia.
“Teheran menargetkan fasilitas AS di negara-negara di seluruh Teluk pada hari Minggu dan mengatakan bahwa mereka telah kembali menutup Selat Hormuz,” ujar Ibrahim dalam keterangan tertulis di Jakarta.
Penutupan ini menghidupkan kembali skenario krisis energi global. Pelaku pasar khawatir lonjakan harga minyak akan memicu guncangan inflasi baru, persis seperti yang terjadi pada awal konflik tahun lalu. Kekhawatiran ini diperkuat oleh ekspektasi bahwa Federal Reserve mungkin harus mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama untuk meredam inflasi.
Risalah The Fed: Sinyal Kenaikan Suku Bunga Makin Kuat
Tekanan terhadap rupiah tidak hanya berasal dari faktor eksternal. Risalah pertemuan Federal Reserve bulan Juni yang dirilis pekan lalu menunjukkan sejumlah pejabat The Fed melihat alasan untuk menaikkan suku bunga lebih lanjut. Kekhawatiran terhadap tekanan inflasi masih dominan, meskipun kekhawatiran terhadap pasar tenaga kerja mulai mereda.
“Beberapa pembuat kebijakan percaya ada alasan untuk menaikkan suku bunga, sementara para pejabat secara umum menyatakan kekhawatiran yang lebih besar atas tekanan inflasi,” ungkap Ibrahim mengutip risalah The Fed.
Sikap hawkish The Fed ini membuat dolar AS semakin perkasa di hadapan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Arus modal asing keluar dari pasar keuangan Indonesia berpotensi berlanjut dalam jangka pendek.
Masa Depan Perjanjian Gencatan Senjata Kian Tidak Pasti
Eskalasi terbaru ini menimbulkan keraguan serius terhadap kelanjutan perjanjian sementara AS-Iran yang baru ditandatangani bulan lalu. Kesepakatan tersebut bertujuan membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri konflik setelah 60 hari negosiasi lanjutan.
Dengan kembali pecahnya pertempuran, prospek diplomasi menjadi suram. Pasar kini bersiap menghadapi volatilitas nilai tukar yang lebih tinggi dalam beberapa pekan ke depan, tergantung pada respons kebijakan moneter Bank Indonesia dan ketahanan fundamental ekonomi domestik.