KALIMANTAN TIMUR — VIBE (Visually Innovative Bold Entertainment) bergabung sebagai strategic partner untuk memperkuat posisi film di pasar internasional. Kemitraan ini mencakup distribusi, pengembangan audiens, hingga membangun jaringan dengan platform dan mitra global.
Sinopsis dan Pendekatan Cerita
"Every Living Thing" menyoroti dampak menyusutnya sumber daya air terhadap kehidupan manusia. Film ini menghadirkan wawancara pakar dan kesaksian langsung dari komunitas yang sudah hidup dalam tekanan krisis air.
Pendekatannya tidak berhenti pada isu lingkungan semata. Tim pembuat film mengaitkannya dengan mata pencaharian, ketahanan pangan, migrasi, pembangunan, hingga potensi konflik akibat air.
Sutradara Uzair Merchant menegaskan bahwa air adalah persoalan yang melampaui batas negara dan identitas.
"Water does not recognize race, religion, borders or color. It is the one thing every human being depends on, no matter who we are or where we come from. This is not a story about one country, one culture or one community. It is a story about humanity," ujar Merchant.
Kolaborasi Tiga Negara di Balik Produksi
Film ini diproduksi BKreativ Prods. dari Kanada dan Kleos Entertainment Group dari India. VIBE memimpin sisi Uni Emirat Arab dalam kemitraan strategis ini.
Gayathiri Guliani, founder dan CEO Kleos Entertainment Group, menyebut proyek ini sebagai contoh kolaborasi internasional yang lahir dari cerita dengan relevansi global.
"Water may be experienced locally, but its consequences are universal. Our ambition is to build a life for this film across markets, from cinema and streaming to education, impact partnerships and global institutions," kata Guliani.
Kalya Mouquet, CEO VIBE, menambahkan bahwa perusahaannya memang menargetkan cerita-cerita yang punya jangkauan lintas negara.
"'Every Living Thing' represents the kind of globally relevant storytelling that VIBE exists to champion. Our role as a strategic partner is to help this powerful story travel beyond the traditional documentary ecosystem and connect with audiences, platforms and partners around the world," ujar Mouquet.
Strategi Distribusi dan Dampak Sosial
Para produser tidak hanya menargetkan rilis di bioskop atau platform streaming. Mereka menyiapkan pendekatan yang lebih luas dengan melibatkan organisasi lingkungan, universitas, NGO, pembuat kebijakan, hingga investor berdampak.
Tujuannya, film ini bisa masuk ke ruang kelas, program komunitas, dan diskusi kebijakan publik. Pendekatan ini disebut sebagai "impact journey" yang berjalan beriringan dengan festival dan pasar film.
Debut di Toronto market menjadi titik awal upaya penjualan dan distribusi internasional film ini. Tim produksi dijadwalkan bertemu dengan buyer global, agen penjualan, broadcaster, platform streaming, dan mitra yang berfokus pada dampak sosial.
Langkah ini menempatkan "Every Living Thing" sebagai proyek dokumenter yang tidak hanya mengandalkan jalur festival, tetapi juga membangun ekosistem distribusi berbasis isu. Pendekatan semacam ini semakin umum di pasar film internasional, terutama untuk dokumenter yang mengangkat isu lingkungan dan kemanusiaan.