TANJUNG REDEB — Dinas Perikanan (Diskan) Kabupaten Berau meramu pakan ikan mandiri dari tiga bahan baku lokal untuk membantu pembudidaya ikan air tawar di kawasan lingkar tambang. Kepala Bidang Budidaya Diskan Berau, Budiono, menyebut program ini sebagai percontohan yang memanfaatkan bahan murah meriah. Hasil racikannya menekan biaya produksi hingga hampir sepertiga harga pakan komersial.
Biaya Produksi Rp 6.000 per Kilogram, Pakan Pabrikan Rp 20.000
Diskan Berau mengandalkan tepung ikan atau reject asal Tanjung Batu yang dibanderol Rp 3.000 hingga Rp 4.000 per kilogram. Bahan itu dipadukan dengan dedak serta tepung tapioka sebagai perekat. Dari komposisi tersebut, total biaya pembuatan pakan mandiri hanya sekitar Rp 6.000 hingga Rp 7.000 per kilogram.
Harga pakan komersial di pasaran menembus Rp 15.000 sampai Rp 20.000 per kilogram. Selisihnya hampir tiga kali lipat. Bagi pembudidaya ikan air tawar, lonjakan harga pakan pabrikan selama ini menjadi batu sandungan utama.
"Kami sementara mengembangkan tiga bahan utama: tepung ikan atau reject dari Tanjung Batu seharga Rp3.000 sampai Rp4.000 per kilo, kemudian dedak, dan tepung tapioka sebagai perekat," jelas Budiono.
Kolaborasi Pemerintah, Swasta, dan BUMDes di Sektor Hilir
Program pakan mandiri ini berjalan atas dasar kolaborasi lintas sektor. Dinas Perikanan bersama pihak swasta memfasilitasi bantuan benih dan pelatihan teknis pembuatan pakan. Pemerintah kampung masuk melalui Badan Usaha Milik Kampung (BUMK/BUMDes) yang dipercaya menangani pemasaran.
Distribusi dan pemasaran juga mengandalkan destinasi wisata setempat sebagai pusat penguatan ekonomi. Budiono menyampaikan skema itu secara gamblang.
"Jadi pakan mandiri itu sebagai percontohan, menggunakan bahan-bahan lokal yang murah meriah. Nanti benihnya kami atau swasta yang bantu, pakannya kami ajari cara membuatnya, dan pemasarannya dikelola oleh kampung melalui BUMDes dengan memanfaatkan tempat-tempat wisata yang ada sebagai penguatan," ujarnya.
Menunggu Hasil Uji Coba Sebelum Disebar ke Pembudidaya
Formula pakan berbasis bahan lokal tersebut kini memasuki tahap uji coba ketat. Pengujian dilakukan untuk memastikan efektivitas dan kandungan gizi pakan aman sebelum disebarluaskan secara masif.
Jika fase uji coba sukses, Diskan Berau berkomitmen mentransfer teknologi pembuatan pakan kepada para pembudidaya. Harapannya, petambak ikan lokal di Bumi Batiwakkal bisa mandiri dan tidak lagi terbebani harga pakan pabrikan.
Kepala Diskan Berau, Abdul Majid, menempatkan program ini sebagai langkah taktis untuk menekan biaya produksi sekaligus mendongkrak perekonomian masyarakat, khususnya di kawasan lingkar tambang.