KALIMANTAN TIMUR — Ionna CEO Seth Cutler menilai target pengisian daya EV lima menit tidak realistis dan tidak dibutuhkan pasar Amerika Serikat. Ia menyebut pengendara bensin pun tidak selalu buru-buru mengisi bahan bakar, dan pola serupa berlaku bagi pengguna mobil listrik. Standar 10-20 menit dinilai lebih masuk akal untuk kebutuhan perjalanan harian.
Cutler menyampaikan pandangan itu dalam wawancara di The Drivecast, podcast otomotif asal Amerika Serikat. Menurut dia, asumsi bahwa konsumen hanya mau membeli EV jika pengisian daya selesai dalam lima menit tidak sesuai dengan perilaku pengendara sehari-hari.
"This idea that charging has to be done in five minutes or people won't buy EVs is just not accurate," kata Cutler, dikutip dari The Drive.
Pengendara Bensin pun Tidak Selalu Buru-Buru
Cutler membandingkan pengisian daya EV dengan kebiasaan orang mengisi bensin. Ia menilai hampir tidak ada pengendara yang benar-benar bergegas mengisi bahan bakar lalu langsung pergi begitu saja.
"Nobody stops to fuel their vehicle taking gasoline, gets out, rushes as fast as possible, puts as much fuel in the car as possible, and gets back in the car and drives away," ujarnya.
Ia menunjuk sejumlah jaringan ritel bahan bakar Amerika Serikat yang kini berfungsi lebih seperti restoran ketimbang pom bensin biasa. Wawa, Sheetz, Casey's, Buc-ee's, dan Wally's disebutnya sebagai tempat orang menghabiskan waktu di dalam toko.
Menurut Cutler, sebagian besar pendapatan jaringan tersebut justru datang dari penjualan di dalam toko, bukan dari bahan bakar itu sendiri. Pola konsumsi seperti itu, katanya, menunjukkan bahwa waktu tunggu justru bisa dimanfaatkan untuk aktivitas lain.
Bukti Pasar: 6 Persen Mobil Terjual Juli Masih EV
Cutler menyodorkan data penjualan sebagai pembenaran argumennya. Ia menyebut 6 persen dari seluruh mobil yang terjual pada Juli adalah EV, meski infrastruktur pengisian daya dan teknologi baterai yang tersedia saat ini belum ideal.
Angka itu, menurut dia, membuktikan bahwa konsumen Amerika Serikat tetap membeli mobil listrik tanpa harus menunggu teknologi pengisian daya ultracepat tersedia lebih dulu.
Target Realistis: 10-20 Menit, Bukan 5 Menit
Alih-alih mengejar waktu pengisian lima menit, Cutler menilai industri sebaiknya fokus pada rentang 10 sampai 20 menit. Durasi itu, katanya, cukup untuk ke kamar mandi, membeli sandwich, meregangkan badan, atau mengajak anjing jalan sebentar.
"You're looking at how do you get to a place of 10 to 20 minutes from the charging speed," ujarnya, seraya menambahkan bahwa perilaku pengendara tidak seperti kontestan acara belanja yang berlomba mengisi daya secepat mungkin lalu pergi.
Sejumlah mobil listrik yang sudah beredar disebut telah mendekati target tersebut. Model dengan sistem kelistrikan 800 volt ke atas, seperti Volvo EX90 2026, Lucid Gravity, dan lini Hyundai Ioniq, mampu mengisi daya dari 10 hingga 80 persen dalam waktu sekitar 20 menit atau kurang.
Ionna Siapkan Charger 500 kW
Setiap stasiun pengisian daya Ionna saat ini mengandalkan charger berkapasitas 400 kW. Perusahaan tengah menjajaki peningkatan ke 500 kW untuk fasilitas berikutnya.
Meski begitu, Cutler menegaskan pihaknya tidak berniat mengejar kapasitas yang jauh lebih besar. "Much above that, I don't think you need it. I just don't," katanya.
Pandangan ini berbeda dengan arah industri di China, yang gencar mempromosikan pengisian daya lima menit, teknologi pengisian megawatt, dan baterai canggih yang dipadukan dengan EV berharga murah. Di Amerika Serikat, Cutler menilai 500 kW sudah menjadi batas wajar yang dibutuhkan pasar.