KALIMANTAN TIMUR — Pangsa kendaraan bensin dalam penjualan mobil baru global merosot ke 49 persen pada semester I 2026, turun dari 73 persen pada 2021. Penurunan ini dipicu lonjakan harga minyak dunia, sementara penjualan kendaraan listrik justru naik 12 persen menjadi 6,87 juta unit. Untuk pertama kalinya sejak 1920-an, kendaraan bensin bukan lagi mayoritas di pasar global.
Data Mobility Global yang diolah Nikkei Asia menunjukkan penjualan kendaraan bensin global hanya mencapai 20,25 juta unit sepanjang Januari-Juni 2026. Angka itu anjlok 10 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Yang dimaksud kendaraan bensin dalam laporan ini tidak mencakup hybrid dan sebagian kendaraan komersial. Dengan demikian, penurunan ini murni mencerminkan pergeseran konsumen dari mesin pembakaran konvensional.
Harga Minyak Naik Setelah Serangan AS-Israel ke Iran
Nikkei Asia melaporkan lonjakan harga minyak terjadi setelah Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran. Kenaikan harga bensin dan kekhawatiran atas pasokan BBM memukul permintaan kendaraan bensin di berbagai wilayah.
Penjualan kendaraan bensin di China turun 26 persen, sementara di Eropa melemah 13 persen. Dua wilayah itu selama ini menjadi pasar terbesar kendaraan bermesin konvensional.
Kendaraan Listrik Lewati Ambang 16 Persen
Kendaraan listrik menjadi pihak yang paling diuntungkan dari situasi ini. Penjualannya naik 12 persen menjadi 6,87 juta unit, setara 17 persen dari total penjualan kendaraan baru global.
Angka itu melewati ambang 16 persen yang sering dianggap sebagai titik balik adopsi massal kendaraan listrik. Biaya operasional EV yang lebih rendah kembali menjadi pertimbangan utama konsumen.
"Adopsi EV melambat (sekitar 2024) dan hybrid tumbuh karena pemangkasan subsidi dan faktor lain, tetapi harga minyak yang lebih tinggi membuat biaya operasional EV yang lebih rendah kembali diapresiasi, dan penjualan kini tumbuh lagi," kata Associate Director Mobility Global Yoshiaki Kawano.
China dan Amerika Utara Justru Melambat
China masih menyumbang separuh penjualan kendaraan listrik global, tetapi penjualannya turun 3 persen menjadi 3,44 juta unit. Penyebabnya pengurangan insentif pajak sejak Januari.
Di Amerika Utara, penjualan EV turun 15 persen setelah pemerintahan Presiden Donald Trump mencabut insentif. Sebaliknya, Eropa mencatat kenaikan 32 persen menjadi 1,81 juta unit.
Asia Tenggara mencatat lonjakan paling tajam dengan kenaikan 81 persen menjadi 350 ribu unit. Oseania naik lebih dari dua kali lipat menjadi 110 ribu unit.
Asosiasi Produsen Mobil Eropa (ACEA) mencatat penjualan kendaraan listrik di 31 negara utama Eropa untuk pertama kalinya melampaui kendaraan bensin pada basis semester.
Pabrikan China Kuasai 60 Persen Pasar EV Global
Badan Energi Internasional (IEA) mencatat pabrikan China seperti Geely dan BYD menguasai 60 persen penjualan global kendaraan listrik dan plug-in hybrid. Dominasi ini menunjukkan pusat produksi EV dunia tetap berada di China meski pertumbuhan pasar domestiknya melambat.
Hybrid Masih Jadi Andalan Pabrikan Jepang
Penjualan hybrid global naik 10 persen menjadi 7,27 juta unit pada semester I 2026, setara 18 persen penjualan kendaraan baru global. Pabrikan Jepang yang porsi EV-nya relatif kecil masih bertaruh pada teknologi ini.
Hybrid tetap diminati karena lebih irit dibanding kendaraan bensin, bahkan ketika harga BBM tinggi. Mobility Global memperkirakan kendaraan listrik akan mencapai lebih dari 30 persen total produksi kendaraan pada 2030, melampaui hybrid dan kendaraan bermesin termasuk diesel.
Laju adopsi EV masih sangat dipengaruhi kebijakan pemerintah. Sejak musim gugur tahun lalu, permintaan di AS turun tajam setelah subsidi dipangkas dan aturan efisiensi BBM dilonggarkan. Honda dan General Motors me