Pencarian

Produksi Pisang Kaltim Anjlok 60 Persen Akibat Serangan Jamur Fusarium dan Layu Bakteri

Sabtu, 10 Oktober 2026 • 10:52:01 WIB
Produksi Pisang Kaltim Anjlok 60 Persen Akibat Serangan Jamur Fusarium dan Layu Bakteri
Produksi pisang Kalimantan Timur tercatat turun sekitar 60 persen akibat serangan jamur Fusarium dan penyakit layu bakteri.

Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Timur mencatat produksi pisang di wilayahnya turun sekitar 60 persen akibat serangan jamur Fusarium dan penyakit layu bakteri. Penurunan drastis ini terjadi setelah produksi pada 2025 tercatat mencapai 129 ribu ton. Varietas pisang kepok gerecek menjadi salah satu yang paling terdampak.

SAMARINDA — Kepala Bidang Produksi Hortikultura DPTPH Kaltim Kosasih menyebut penurunan produksi pisang terjadi secara signifikan dalam periode terakhir. Angka 129 ribu ton yang tercatat pada 2025 kini tergerus sekitar 60 persen.

Serangan dua patogen sekaligus, yakni jamur Fusarium dan bakteri penyebab layu, membuat tanaman pisang di sejumlah sentra produksi tidak lagi mampu berbuah optimal. Varietas kepok gerecek yang selama ini menjadi andalan petani Kaltim paling parah terkena dampaknya.

Dua Penyakit yang Menggerogoti Sentra Pisang Kaltim

Kosasih memaparkan persoalan ini dalam webinar bertajuk "Pisang Tahan Layu, Kebun Produktif" yang digelar secara virtual dari Samarinda. Forum tersebut menjadi ruang diskusi soal ancaman Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) terhadap komoditas hortikultura unggulan daerah.

Jamur Fusarium menyerang jaringan pembuluh tanaman hingga menghambat aliran air dan nutrisi. Sementara penyakit layu bakteri menyebar cepat melalui tanah dan sisa tanaman terinfeksi. Kombinasi keduanya membuat lahan sulit ditanami kembali dalam waktu singkat.

"Produksi kita signifikan, pada tahun 2025 tercatat sebanyak 129 ribu ton. Namun sekarang turun sekitar 60 persen," kata Kosasih.

Kesenjangan antara Target Produktivitas dan Ancaman Penyakit

Menurut Kosasih, situasi ini menciptakan kesenjangan besar di lapangan. Pemerintah dituntut mendongkrak produktivitas hortikultura, tetapi di sisi lain harus berhadapan dengan serangan OPT yang belum sepenuhnya terkendali.

Jika pengabaian terhadap penyakit ini terus berlanjut, program pengembangan hortikultura yang sudah berjalan dikhawatirkan kehilangan momentum. Investasi waktu dan anggaran pada sektor pisang bisa sia-sia.

Pisang sebelumnya menjadi salah satu penopang utama produksi hortikultura Kaltim. Komoditas ini juga masuk dalam proyeksi pertumbuhan ekonomi daerah, sehingga penurunannya berdampak langsung pada pendapatan petani dan pasokan pasar lokal.

Jalur Khusus 562 Meter untuk Putus Rantai Penularan

DPTPH Kaltim merumuskan sejumlah strategi, mulai dari penguatan kualitas SDM petani, penyediaan sarana prasarana, hingga intervensi fisik di kawasan pertanian. Salah satu langkah konkret yang sudah dijalankan adalah pembangunan infrastruktur sanitasi lahan.

Infrastruktur itu berupa double way atau jalur khusus pengendalian penyakit di kawasan sentra pisang. Jalur ini berfungsi memisahkan area terinfeksi dari tanaman sehat dan memutus rantai penularan.

"Kami sudah melakukan berbagai upaya fisik, termasuk membangun double way sepanjang 562 meter di kawasan tanaman pisang di wilayah Golo untuk memutus rantai penularan," ujar Kosasih.

Kolaborasi Jadi Syarat Pemulihan

DPTPH Kaltim optimistis pemulihan sektor pisang bisa terwujud berkelanjutan. Namun Kosasih menegaskan syarat utamanya adalah kolaborasi aktif dan kesadaran kolektif dari seluruh elemen.

Ia menyatakan sasaran pembangunan pertanian tidak bisa bertumpu pada birokrasi semata. Komitmen penuh pelaku usaha dan petani di lapangan menjadi penentu apakah upaya pengendalian penyakit ini berhasil.

"Syarat utamanya adalah adanya kolaborasi aktif dan kesadaran kolektif dari seluruh elemen," katanya.

Langkah berikutnya bergantung pada konsistensi penerapan sanitasi lahan di sentra-sentra produksi lain. Tanpa pengendalian penyakit yang merata, pemulihan produksi pisang Kaltim berpotensi berjalan lambat.

Follow halobalikpapan.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: kaltim.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks