SAMARINDA — Program IGORNAS tidak sekadar menjadi alat ukur kebugaran, melainkan peta jalan bagi Dispora dan KONI Kaltim dalam menjaring bibit atlet unggulan. Pendekatan berbasis data ini dinilai lebih akurat dibandingkan metode seleksi konvensional yang hanya mengandalkan prestasi di lapangan.
Mengapa IGORNAS Dianggap Lebih Efektif?
IGORNAS menyediakan data komprehensif mengenai status gizi, indeks massa tubuh, dan potensi fisik atlet. Dengan data ini, pelatih bisa langsung mengidentifikasi cabang olahraga yang paling cocok untuk seorang atlet sejak dini.
“Ini bukan sekadar tes kebugaran biasa. Data dari IGORNAS menjadi dasar bagi kami dan KONI untuk menyusun program pembinaan jangka panjang yang tepat sasaran,” ujar Kepala Dispora Kaltim, Agus Hari Kesuma, dalam keterangan resminya.
Tiga Langkah Strategis yang Disepakati
Dispora dan KONI Kaltim sepakat untuk mengimplementasikan tiga strategi utama dalam pengembangan IGORNAS. Pertama, melakukan pemetaan atlet di seluruh kabupaten/kota secara serentak.
Kedua, mengintegrasikan hasil IGORNAS ke dalam sistem database atlet daerah. Ketiga, memberikan rekomendasi cabang olahraga spesifik berdasarkan profil gizi dan fisik masing-masing atlet.
Dampak Langsung bagi Atlet Muda Kaltim
Bagi atlet muda di Kaltim, program ini menjadi kesempatan emas untuk mendapatkan pembinaan yang lebih personal. Mereka tidak lagi dinilai hanya dari satu pertandingan, melainkan dari potensi jangka panjang yang terukur.
KONI Kaltim menambahkan bahwa sinergi ini akan mempercepat proses kaderisasi atlet untuk menghadapi event nasional seperti PON dan even internasional. “Kami ingin atlet Kaltim tidak hanya ikut serta, tapi benar-benar bersaing di level tertinggi,” tegas Sekretaris Umum KONI Kaltim.
Kapan Program Ini Mulai Berjalan?
Program IGORNAS tahap pertama ditargetkan mulai bergulir dalam waktu dekat di Kota Samarinda dan Balikpapan sebagai pilot project. Selanjutnya, program akan diperluas ke seluruh kabupaten/kota di Kaltim secara bertahap.
Dispora dan KONI berharap langkah ini mampu menjawab tantangan klasik dalam pencarian atlet berbakat, yaitu minimnya data akurat dan pembinaan yang tidak berkelanjutan.