Pencarian

Dampak Gerak Kurs Rupiah dan Kepemimpinan Baru BI terhadap Ekspor Batu Bara di Kalimantan Timur

Senin, 27 Juli 2026 • 09:00:01 WIB
Dampak Gerak Kurs Rupiah dan Kepemimpinan Baru BI terhadap Ekspor Batu Bara di Kalimantan Timur
Aktivitas bongkar muat batu bara di pelabuhan Samarinda, Kalimantan Timur, berlangsung di tengah fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

SAMARINDA — Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang cenderung fluktuatif dalam beberapa pekan terakhir langsung dirasakan oleh para pengusaha tambang di Kalimantan Timur. Sebagai daerah dengan kontribusi ekspor batu bara terbesar secara nasional, setiap perubahan kurs berdampak pada pendapatan perusahaan dan penerimaan daerah.

Di sisi lain, terpilihnya Destry Damayanti sebagai Gubernur Bank Indonesia yang baru menimbulkan ekspektasi tersendiri. Destry dikenal memiliki pengalaman panjang di sektor perbankan dan kebijakan moneter, termasuk saat menjabat sebagai Wakil Gubernur BI. Pelaku usaha di Kaltim berharap kebijakan yang diambil mampu menjaga stabilitas rupiah tanpa mengorbankan sektor riil.

Kurs Rupiah dan Daya Saing Batu Bara Kaltim

Bagi eksportir batu bara di Kutai Kartanegara dan Samarinda, kurs rupiah yang melemah terhadap dolar AS sebenarnya menguntungkan karena penerimaan dalam dolar menjadi lebih besar jika dikonversi ke rupiah. Namun, pelemahan yang terlalu tajam justru meningkatkan biaya impor alat berat dan suku cadang yang masih didatangkan dari luar negeri.

Salah satu pengusaha tambang di Balikpapan menyebutkan bahwa volatilitas kurs membuat perencanaan bisnis jangka pendek menjadi sulit. “Kami harus sering menyesuaikan harga jual dan kontrak, sementara pembeli di luar negeri menginginkan kepastian,” ujarnya, enggan disebutkan namanya.

Harapan Pelaku Usaha terhadap Kepemimpinan Baru BI

Destry Damayanti resmi menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia pada akhir 2024 menggantikan Perry Warjiyo. Pergantian ini terjadi di tengah era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang memiliki visi swasembada energi dan hilirisasi.

Pengurus Asosiasi Pengusaha Batu Bara Indonesia (APBI) Kalimantan Timur menilai stabilitas kurs menjadi kunci agar investasi di sektor pertambangan tetap menarik. “Kami berharap BI tetap konsisten menjaga inflasi dan nilai tukar, terutama saat harga komoditas global sedang tidak menentu,” kata salah satu pengurus.

Yang Perlu Dicermati ke Depan

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur terus memantau perkembangan nilai tukar karena berdampak langsung pada Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pertambangan. Setiap pelemahan rupiah yang ekstrem bisa menurunkan realisasi penerimaan pajak dan royalti jika perusahaan menekan produksi.

Selain itu, Bank Indonesia Kantor Perwakilan Kaltim diminta aktif memberikan sinyal kebijakan kepada pelaku usaha agar mereka bisa melakukan hedging atau lindung nilai. Langkah antisipatif ini dinilai penting untuk mengurangi risiko kerugian akibat gejolak kurs.

Kalimantan Timur juga mulai mengalihkan sebagian ketergantungan ke sektor hilir, seperti pengolahan batu bara menjadi dimethyl ether (DME) dan kawasan industri. Stabilitas makroekonomi, termasuk kurs, menjadi fondasi agar proyek-proyek strategis tersebut berjalan sesuai jadwal.

Bagikan
Sumber: market.bisnis.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks