Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Kalimantan Timur memaparkan empat pilar strategi manajemen pakan untuk menjaga kesehatan dan produktivitas sapi selama musim kemarau. Kepala DPKH Kaltim Arief Murdiyatno menyampaikan hal itu di Samarinda, Rabu, dengan menekankan bahwa kesiapan pakan yang adaptif menjadi kunci peternak melewati fase kemarau. Penurunan ketersediaan hijauan segar di padang penggembalaan disebut kerap memicu kenaikan biaya pakan hingga berisiko mengganggu bobot badan dan reproduksi ternak.
SAMARINDA — Empat pilar yang dipaparkan Arief mencakup pemanfaatan pakan lokal, penerapan teknologi pengawetan, pengaturan frekuensi pemberian pakan, dan pemberian suplemen berimbang. Keempatnya disusun untuk merespons penurunan ketersediaan dan kualitas hijauan segar yang biasa terjadi saat kemarau panjang.
"Kunci keberhasilan peternak melewati fase kemarau terletak pada kesiapan manajemen pakan yang adaptif dan terencana," kata Arief.
Jerami Padi dan Jagung Diolah Lewat Amoniasi Urea
Pilar pertama mengarahkan peternak memanfaatkan pakan lokal seperti jerami padi dan jagung yang ditingkatkan kualitas nutrisinya melalui pengolahan amoniasi urea. Arief menyebut bahan pakan alternatif seperti daun leguminosa dan limbah pertanian di sekitar lingkungan peternak dapat diolah menjadi pakan bernilai gizi tinggi.
Langkah ini dinilai penting karena hijauan segar di padang penggembalaan berkurang saat suhu udara memuncak. Tanpa substitusi pakan, biaya pembelian pakan komersial berpotensi membengkak.
Silase dan Hay Jadi Cadangan Pakan Harian
Pilar kedua mendorong peternak mengoptimalkan teknologi pengawetan pakan berupa silase dan hay. Keduanya berfungsi menjamin ketersediaan cadangan pakan harian ketika pasokan hijauan segar menipis.
DPKH Kaltim juga menganjurkan pemberian konsentrat tambahan seperti dedak, bungkil sawit, bungkil kelapa, serta Urea Molases Blok untuk menopang kecukupan nutrisi ternak.
Pakan Diberikan 2-3 Kali Sehari, Air Bersih Wajib Tersedia
Pilar ketiga menekankan kedisiplinan pengaturan frekuensi pemberian pakan sebanyak dua hingga tiga kali sehari. Pasokan air bersih mutlak dipastikan selalu tersedia mengingat kecukupan cairan tubuh sapi meningkat drastis saat suhu lingkungan memuncak.
"Pilar ketiga menekankan kedisiplinan pengaturan frekuensi pemberian pakan sebanyak dua hingga tiga kali sehari yang disertai jaminan pasokan air bersih," tutur Arief.
Suplemen Mineral hingga Probiotik Tekan Stres Panas
Pilar keempat melengkapi pemenuhan gizi melalui pemberian suplemen mineral campuran, vitamin, serta probiotik. Tujuannya menekan potensi stres panas pada sapi yang rentan muncul di musim kemarau.
"Pemberian suplemen yang tepat berperan penting untuk memaksimalkan daya cerna pakan sekaligus meningkatkan daya tahan tubuh ternak dari ancaman penyakit," kata Arief.
Langkah pendukung turut disiapkan, mulai dari penyediaan naungan kandang dengan ventilasi sejuk hingga rotasi lokasi padang penggembalaan. Petugas DPKH Kaltim memantau secara berkala perkembangan bobot badan dan nafsu makan sapi.
Manajemen Pakan Disebut Investasi Jangka Panjang
Arief menegaskan penerapan manajemen pakan yang tepat di masa kemarau bukan sekadar pengeluaran harian. Menurutnya, langkah itu merupakan bentuk investasi jangka panjang bagi keberlanjutan usaha peternakan.
"Penerapan manajemen pakan yang tepat di masa kemarau bukan sekadar pengeluaran harian melainkan bentuk investasi jangka panjang bagi keberlanjutan usaha," tegas Arief.
DPKH Kaltim terus mengintensifkan pendampingan teknis kepada kelompok peternak daerah. Pendampingan itu diarahkan mendukung terwujudnya kemandirian serta ketahanan pangan nasional.