SAMARINDA — Kepala Stasiun Meteorologi Kelas III APT Pranoto Samarinda Riza Arian Noor menyampaikan bahwa prediksi deterministik curah hujan menempatkan mayoritas wilayah Kaltim pada kategori rendah. Peluang hujan di wilayah tersebut diperkirakan melebihi 90 persen.
Pengecualian muncul di sejumlah titik. Wilayah barat laut Kaltim diprediksi mengalami curah hujan kategori menengah 50-150 mm dengan peluang hujan 60-70 persen.
Berau, Kutim, dan Mahakam Ulu Jadi Pengecualian
Tiga kabupaten diprediksi mendapat curah hujan lebih tinggi dibanding wilayah lain. Kabupaten Berau bagian barat, Kabupaten Kutai Timur bagian barat laut, dan Kabupaten Mahakam Ulu bagian barat diperkirakan mengalami curah hujan 50-75 mm.
Untuk sifat hujan, sebagian besar Kaltim didominasi kategori bawah normal pada kisaran 0-50 persen. Sifat hujan normal 84-115 persen hanya diprediksi terjadi di sebagian kecil Berau bagian barat dan Kutai Timur bagian barat laut.
Paser, Kukar, dan Samarinda Masuk Kategori Kekeringan Ekstrem
Kondisi hari tanpa hujan (HTH) di Kaltim umumnya masuk kategori sangat pendek, yakni 1-5 hari. Namun sejumlah wilayah tercatat mengalami HTH hingga kategori kekeringan ekstrem.
Wilayah tersebut meliputi Kabupaten Paser, Kabupaten Kutai Kartanegara, dan Kota Samarinda. Durasi terpanjang terjadi di Batu Enggau, Kabupaten Paser.
"Durasi terpanjang tercatat di Batu Enggau, Kabupaten Paser, yang mengalami hari tanpa hujan selama 69 hari berturut-turut," kata Riza di Samarinda, Kamis (1/10).
Apa Dampaknya bagi Warga Kaltim?
Curah hujan rendah berkepanjangan berpotensi memperparah kekeringan di sektor pertanian dan memicu krisis air bersih di wilayah terdampak. Warga di Paser, Kukar, dan Samarinda perlu mewaspadai pasokan air harian selama periode ini.
BMKG belum menyampaikan peringatan dini khusus terkait potensi kebakaran lahan. Namun kombinasi HTH panjang dan curah hujan minim biasanya meningkatkan risiko karhutla di wilayah gambut.