KALIMANTAN TIMUR — Pangeran Harry mengaku sempat merasa bersalah ketika mulai merasakan kebahagiaan setelah kepergian Putri Diana pada 1997. Dalam sesi MasterClass menjelang Hari Kesehatan Mental Sedunia, ia menceritakan perjalanan emosionalnya selama bertahun-tahun. Kisahnya memberi gambaran nyata tentang proses berduka yang dialami banyak orang.
Pangeran Harry menyimpan luka mendalam sejak kehilangan sang ibu, Putri Diana, akibat kecelakaan mobil di Paris pada 1997. Saat itu usianya baru 12 tahun. Pengalaman itu membentuk cara Harry menghadapi kesedihan selama bertahun-tahun berikutnya.
Dalam sesi MasterClass yang membahas proses menghadapi kehilangan, Harry membuka cerita tentang pergulatan batinnya. Program tersebut dirilis menjelang Hari Kesehatan Mental Sedunia yang diperingati setiap 10 Oktober. Dikutip dari People, Sabtu (10/10/2026), pengakuan ini menjadi salah satu momen paling jujur yang pernah ia bagikan ke publik.
Mati Rasa Emosional Selama Bertahun-tahun
Setelah kepergian Putri Diana, Harry mengaku mengalami mati rasa secara emosional. Kondisi itu membuatnya tetap bisa menjalani kehidupan dan fokus pada berbagai tanggung jawab, termasuk saat bertugas di militer.
Awalnya, Harry menganggap kemampuan menekan emosi sebagai sebuah kekuatan. Lambat laun, ia menyadari bahwa sikap tersebut justru menjadi cara menghindari rasa kehilangan yang belum sepenuhnya ia hadapi.
Rasa Bersalah Ketika Mulai Bahagia
Duke of Sussex itu mengungkapkan bahwa ia sempat merasa bersalah ketika mulai merasakan kebahagiaan. Ia menganggap dirinya harus terus bersedih untuk menunjukkan rasa rindu kepada sang ibu.
Perasaan semacam itu ternyata tidak hanya dialami Harry. Banyak orang yang kehilangan sosok terdekat merasa tidak pantas berbahagia setelahnya. Padahal, rasa bahagia tidak berarti melupakan orang yang telah pergi.
Kenapa Perasaan Ini Penting Dikenali
Rasa bersalah saat mulai bahagia sering muncul tanpa disadari. Jika dibiarkan, perasaan ini bisa menghambat proses pemulihan emosional seseorang. Mengenali dan menerima perasaan tersebut menjadi langkah awal yang penting.
Harry membagikan pengalamannya bukan untuk mencari simpati, melainkan agar orang lain yang mengalami hal serupa tidak merasa sendirian. Berbicara terbuka tentang duka, menurutnya, adalah bagian dari proses penyembuhan.
Kapan Sebaiknya Mencari Bantuan
Jika rasa sedih dan bersalah berkepanjangan hingga mengganggu aktivitas harian, konsultasi dengan psikolog atau konselor bisa sangat membantu. Dukungan dari keluarga dan teman terdekat juga berperan besar dalam proses pemulihan.
Menghubungi profesional bukan tanda kelemahan. Justru sebaliknya, itu langkah berani untuk menjaga kesehatan mental. Layanan konseling kini semakin mudah diakses, termasuk secara daring di Indonesia.
Kisah Pangeran Harry mengingatkan bahwa berduka tidak punya batas waktu yang sama bagi setiap orang. Merasa bahagia kembali bukan berarti kehilangan cinta pada sosok yang telah pergi. Justru dengan merawat diri sendiri, kita bisa menghormati kenangan mereka dengan cara yang lebih sehat.