SAMARINDA — Kabupaten Mahakam Ulu selama ini bergantung pada jalur Sungai Mahakam untuk mengangkut penumpang dan barang. Perjalanan dari Samarinda menuju wilayah hulu itu memakan waktu 30 hingga 40 jam, atau sekitar dua hari dua malam, tergantung arus, pasang surut, dan muatan kapal.
Kondisi tersebut membuat biaya logistik membengkak dan risiko perjalanan tinggi, terutama saat air surut ekstrem atau melintasi jeram seperti Riam Panjang dan Riam Udang. Pembangunan jalan darat di koridor Tering-Ujoh Bilang-Long Bagun diharapkan memutus ketergantungan itu.
Pembagian Kewenangan: 31,53 Km di Pemprov, 113–117 Km di Pemerintah Pusat
Berdasarkan data Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur 2026, total panjang koridor dari Kecamatan Tering di Kutai Barat menuju Ujoh Bilang hingga Long Bagun mencapai sekitar 140–145 km. Pengerjaan dibagi sesuai kewenangan antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat.
Pemprov Kaltim menangani ruas batas Kutai Barat menuju Ujoh Bilang sepanjang 31,53 km, dengan target perkerasan aspal dan beton (rigid) tuntas pada 2026. Sementara Kementerian PU menangani sisa ruas sekitar 113–117 km yang masuk jaringan jalan nasional menuju kawasan perbatasan negara.
Mahakam Ulu merupakan kabupaten termuda di Kalimantan Timur dan berbatasan langsung dengan Malaysia. Wilayah ini tergolong kawasan 3TP, yakni tertinggal, terdepan, terpencil, dan perbatasan.
Biaya Angkut Barang Turun, Harga Bahan Pokok Ikut Tertekan
Kehadiran jalan darat langsung dirasakan warga setempat. Ketergantungan pada moda perairan selama ini memicu tingginya harga bahan pokok dan material bangunan, tetapi akses darat kini mampu menekan biaya angkut barang secara drastis.
Warga juga lebih mudah menjangkau fasilitas kesehatan rujukan dan institusi pendidikan di Kutai Barat maupun Samarinda. Perjalanan tidak lagi terhambat kendala navigasi sungai yang berubah-ubah sepanjang tahun.
Selain jalur perairan dan jalan darat, Mahakam Ulu masih dilayani penerbangan perintis dari Bandara APT Pranoto Samarinda dan Bandara Melalan Kutai Barat menuju Bandara Datah Dawai. Namun kapasitas angkut udara terbatas dan biaya tiket relatif mahal untuk kebutuhan logistik harian.
Jalur Distribusi Sawit, Kakao, dan Kerajinan Dayak Terbuka
Bagi pelaku usaha dan UMKM, konektivitas baru ini membuka jalur distribusi komoditas pertanian, hasil perkebunan seperti kelapa sawit dan kakao, hingga kerajinan lokal ke pasar luar. Kepastian waktu tempuh menjadi nilai tambah tersendiri.
Truk pengangkut logistik dapat melintas langsung tanpa bergantung pada proses alih moda antara sungai dan darat yang berbiaya tinggi. Potensi wisata alam dan budaya Dayak di pedalaman Hulu Mahakam pun lebih mudah dijangkau wisatawan domestik maupun mancanegara.
Kondisi ini dinilai menarik minat pengusaha di bidang perdagangan, jasa logistik, perhotelan, kuliner lokal, hingga penyedia infrastruktur pendukung di sepanjang simpul pergerakan baru.
Dorong Pencapaian IKU Pemerataan Pembangunan
Bagi Pemkab Mahakam Ulu dan Pemprov Kaltim, keberadaan infrastruktur ini membantu pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU) terkait pemerataan pembangunan dan pengentasan daerah terisolasi. Koridor tersebut juga menjadi satu-satunya jaringan jalan paralel perbatasan Kalimantan yang melewati wilayah Kaltim.
Penyelesaian ruas 31,53 km pada 2026 menjadi penentu apakah konektivitas darat dari Kutai Barat hingga Long Bagun dapat beroperasi penuh. Sisa ruas nasional menuju Long Pahangai dan Long Apari masih menunggu penanganan Kementerian PU.