SANGATTA — Forum musyawarah yang berlangsung di kediaman Sayid Abdal Nanang Al Hasani itu menghasilkan kesepakatan bulat tanpa pemungutan suara. Sekitar 80 perwakilan suku yang hadir menerima pencalonan tunggal tersebut sebagai ketua pertama organisasi yang baru berdiri.
MSS KT dibentuk sebagai ruang silaturahmi lintas suku di Kabupaten Kutai Timur. Organisasi ini menaungi warga dari beragam latar belakang tanpa membedakan agama, ras, adat istiadat, budaya, maupun status sosial.
Agenda Sosial, Pendidikan, dan Keterampilan Jadi Program Awal
Sayid Abdal menyebut MSS KT sudah menyiapkan sejumlah agenda kegiatan sosial. Bantuan bagi warga yang membutuhkan masuk dalam program awal organisasi tersebut.
“MSS KT hadir sebagai ruang komunikasi dan silaturahmi bagi seluruh elemen masyarakat. Kami juga menyiapkan agenda kegiatan sosial, penyaluran bantuan bagi warga yang membutuhkan, serta program perhatian pada bidang pendidikan dan peningkatan keterampilan generasi muda,” ujar Abdal.
Perhatian pada pendidikan dan peningkatan keterampilan generasi muda menjadi salah satu fokus yang disebutnya. Dua bidang itu dianggap penting untuk menyiapkan warga Kutai Timur menghadapi perubahan daerah.
Keberagaman Suku Dinilai Kekayaan, Bukan Penghalang
Menurut Sayid Abdal, keberagaman suku, adat, dan budaya di Kutai Timur merupakan kekayaan daerah yang harus dijaga bersama. Perbedaan dinilainya bukan penghalang untuk membangun hubungan yang harmonis.
Ia justru memandang perbedaan sebagai kekuatan untuk mempererat persatuan. Pandangan itu menjadi dasar pembentukan organisasi yang menaungi seluruh suku di wilayah tersebut.
Sinergi dengan Pemkab Kutim hingga Respons soal IKN
MSS KT berkomitmen membangun sinergi dan komunikasi konstruktif dengan Pemerintah Kabupaten Kutai Timur, DPRD, pelaku usaha, serta pemangku kepentingan lainnya. Sayid Abdal menambahkan bahwa organisasi ini juga menyambut positif pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) sebagai momentum strategis kemajuan Kalimantan Timur.
Ia berharap MSS KT mampu menyatukan masyarakat dan memperkuat semangat gotong royong demi kemajuan daerah. Harapan itu sejalan dengan semboyan organisasi: “Berbeda Suku, Satu Persaudaraan, Bersama Membangun Kutai Timur.”