KALIMANTAN TIMUR — Model AI dari OpenAI dan Google membantu menemukan serta memperbaiki celah keamanan PHP2SHELL yang mengancam situs berbasis PHP di seluruh dunia. Celah ini memungkinkan penyerang menjalankan kode berbahaya di server dan mengakses data sensitif. Perbaikan dirilis pengelola PHP sehari sebelum jadwal pengungkapan resmi 22 Oktober.
Presiden OpenAI Greg Brockman mengungkap bahwa bug PHP2SHELL sudah bersemayam di PHP selama 14 tahun. Versi kecil dari celah ini sebenarnya ditemukan pada 2024, tetapi saat itu tidak dianggap cukup serius untuk ditangani.
Perusahaan keamanan siber Calif menemukan versi lain pada Agustus, sementara tim OpenAI secara independen menemukan versi lengkapnya pada September. Temuan itulah yang memicu koordinasi lintas pihak untuk menambal kerentanan sebelum dieksploitasi.
Apa Itu Celah PHP2SHELL
PHP2SHELL adalah kerentanan yang memungkinkan hacker menjalankan kode berbahaya di server yang terdampak. Dampaknya bisa sangat luas: data sensitif pengguna dan bisnis berpotensi terbuka.
Tidak semua website berbasis PHP rentan terhadap celah ini. Namun popularitas PHP sebagai bahasa pemrograman web membuat potensi skala serangan menjadi perhatian serius di kalangan praktisi keamanan siber.
OpenAI menyebut kerentanan ini sebagai salah satu masalah keamanan siber paling genting dalam beberapa waktu terakhir. Perusahaan menekankan pentingnya peran sistem AI dalam mengidentifikasi celah pada software yang dipakai secara masif.
Peran GPT-5.6 Sol dan Gemini
Calif menemukan salah satu celah menggunakan model GPT-5.6 Sol sebagai bagian dari Patch the Planet, program keamanan siber OpenAI. Penemuan itu menjadi salah satu kontribusi utama dalam upaya perbaikan.
Di sisi lain, unit keamanan siber Google, Wiz, memakai model AI untuk menemukan dan menyelidiki kerentanan. Gemini AI berkontribusi menilai tingkat bahaya, menguji potensi serangan, dan memverifikasi perbaikan yang dirilis.
OpenAI menghabiskan dua bulan terakhir berkolaborasi dengan koalisi pengelola PHP, peneliti keamanan, dan perusahaan keamanan siber. Kolaborasi ini bertujuan menangani kerentanan secara menyeluruh sebelum publikasi.
Siapa Saja yang Terlibat
Pengelola PHP memimpin upaya perbaikan celah. OpenAI, Wiz, Cloudflare, dan sejumlah mitra lain menyumbang riset serta membantu menyiapkan perlindungan sebelum kerentanan dipublikasikan.
Koalisi semula berencana mengungkap kerentanan pada 22 Oktober. Namun informasi bocor lebih awal, sehingga pengelola PHP merilis perbaikan sehari lebih cepat dari jadwal.
Peringatan untuk Pengguna dan Bisnis
OpenAI menegaskan PHP bukan kasus terakhir dari jenis kerentanan ini. Perusahaan mengaku telah menemukan beberapa kerentanan serius lainnya dan memperkirakan laporan penemuan serupa akan meningkat dalam beberapa bulan ke depan.
Bagi pelaku bisnis digital dan pengelola situs, langkah paling mendesak adalah memastikan instalasi PHP sudah diperbarui ke versi yang memuat patch. Pengguna smartphone aktif juga perlu waspada terhadap layanan daring yang belum mengumumkan pembaruan keamanan.
Kemampuan AI menemukan celah juga menyimpan risiko. OpenAI menyoroti ancaman bahwa kapabilitas serupa bisa disalahgunakan penjahat siber untuk mencari kelemahan sistem sebelum sempat ditambal.
Kasus PHP2SHELL menunjukkan bahwa kolaborasi antara laboratorium AI, perusahaan keamanan, dan pengelola proyek open source menjadi model yang makin penting. Kecepatan deteksi dan penambalan akan menentukan seberapa besar dampak serangan di masa depan.